Kesenian Tradisional dalam Gegap Gempita Ibu Kota

Malam minggu saya (21/05) dikelilingi lelaki bertelanjang dada (hah)

image

Iya, maksudnya para pelakon dari Wayang Orang Bharata. Ehehe.

Malam itu adalah pertama kalinya saya melihat langsung pagelaran wayang wong dengan cerita “Abimanyu Lahir”. Ternyata kesenian tradisional ini masih eksis di tengah gemerlap Kota Jakarta. Berada di salah satu sudut kawasan Senen, Jakarta Pusat, paguyuban ini bertahan dengan menyuguhkan pertunjukkan seni yang dikemas dalam tata panggung dan lighting sederhana serta iringan gamelan yang sungguh apik.

Pementasan dilakukan setiap malam minggu mulai pukul 20.30 WIB. Harga tiketnya cukup terjangkau, yakni 40-60ribu rupiah, tergantung kelas yang dipilih. Mulai dari balkon hingga kelas utama alias VIP. Durasi pertunjukkan kurang lebih 2-4 jam tergatung cerita yang dibawakan. Lumayan lama sih ya. Tapi jangan khawatir, kalau lapar kita bisa memesan makanan di emperan sekitar gedung dan menikmatinya di dalam ruangan pertunjukkan. Bawa cemilan dari rumah juga boleh. Dan yang pasti, gak perlu kucing-kucingan ngumpetin makanan kayak kalo pergi ke bioskop hehehe. Psst, persis di depan gedung itu ada ketoprak yang didaulat sebagai ketropak terenak di Jakarta loh.

Bosan? Hmm tentatif sih ya. Emang sih wayang identiknya sama tembang-tembang jawa yang mendayu-dayu dan selo abis. Tapi kalo saya sih malah sukaaa. Ya gimana, para pemainnya sungguh piawai memainkan peran mereka masing-masing, sih. Dan lagi, wayang selalu punya makna tersirat dari setiap cerita yang ditampilkan. Kayak film aja sih sebenernya, tapi genre-nya folklore tradisional.

Nih, bonus foto-foto selama pertunjukkan.
image

image

image

image

(Tadinya pengen nulis lebih panjang tapi apa daya lagi tidak nafsu bercerita. Alhasil cuma bisa repost dari instagram dengan sedikit perubahan dan tambahan foto-foto….)

Serunya Festival Film Eropa

Well actually this is a belated weekend story sih karena bukan pas minggu kemaren, tapi minggu kemarennya lagi (nahloh)

Jadi, berawal dari kebosanan yang melanda di hari Minggu siang, saya mencari kegiatan yang bisa dilakukan selain kegiatan produktif macam main-main di depan laptop atau tidur-tiduran di atas kasur. Pas banget lagi scrolling timeline Twitter kemudian ada info kalo hari itu (8 Mei) adalah hari terakhir Europe on Screen!

Europe on Screen adalah sebuah Festival Film Eropa yang diadakan di Indonesia setiap tahun. Tahun 2016 sendiri merupakan kali ke-13 acara ini digelar. Pusat-pusat kebudayaan Eropa di Jakarta seperti GoetheHaus, Erasmus Huis, Institut Francais, Institut Italiano, serta ruang pertunjukan umum semacam auditorium IKJ hingga Bintaro Xchange pun dipilih sebagai lokasi penayangan. Saya sendiri pertama kali ke EoS itu… tahun 2011 di GoetheHaus, bareng sama Frau Wilma, guru bahasa jerman yang lagi magang di sekolah saat itu :D.

Karena bosen di rumah (iya saya ini sebenernya gak betahan kalo di rumah), akhirnya saya memutuskan buat pergi ke EoS. Eh tapi kok sendirian banget sih? Yaudah akhirnya saya iseng ngajak seorang temen yang kira-kira bakal mau, namanya Selma. Ini anak emang super impulsif banget kayak saya, makanya saya yakin dia pasti mau :)) Wong pas saya ngajak dia lagi maskeran, eh abis itu buru-buru bilas wajah dan siap-siap buat pergi :))

Kami datang ke lokasi pemutaran di Erasmus Huis, Kuningan. Sampe sana sekitar jam 4 sore dan udah rame orang ngantri tiket. Sebelumnya saya udah ngecek jadwal di Twitter dan tau kalau akan ada pemutaran film jam 5 sore. Pengunjung dianjurkan untuk datang 1 jam sebelum penayangan supaya bisa dapet tiket. Oh iya, semua film yang ditayangkan di EoS bisa ditonton secara gratis, jadi tinggal ngantri aja gak usah nyiapin duit masuk :))

image

Kami menonton film The Lobster (Ireland, 2015). Film ini adalah film ter-absurd yang pernah saya tonton sepanjang sejarah hidup saya :)). Perpaduan antara komedi gelap dan romansa unik dengan konsep dystopian yang sangat avant garde. Pokoknya nyeleneh parah. Tentunya film ini gak bisa ditelen bulat-bulat karena inti ceritanya (mungkin) hanya bisa diambil lewat pemahaman yang tidak eksplisit, dilihat dari balik scene, premis, dialog, dan juga karakter yang semuanya sangat surreal.

Sebenernya ide cerita dari film garapan Yorgos Lanthimos ini cukup sederhana karena berkisar tentang salah satu peristiwa fundamental di hidup kita, yaitu…. persoalan jatuh cinta, yang dikemas dengan cara tidak biasa bin aneh. Film ini sukses membuat saya ‘menertawakan’ banyak aspek yang kira-kira cukup tersentil di scene-scene yang ada, tentang bagaimana keterpaksaan dalam menyukai seseorang akan membuat si pelaku menderita, dan bagaimana keterpaksaan untuk tidak menyukai seseorang yang sangat kita sukai pun juga bisa masuk ke dalam penderitaan. Jadi, mana yang lebih mudah? Pura-pura suka sama orang yang nggak disuka, atau pura-pura nggak suka sama orang yang kita suka? Ehem :))

Well, EoS tahun ini merupakan salah satu pengalaman berkesan buat saya dan juga Selma. Saya suka sekali hype pengunjungnya yang sangat antusias. Hal ini menujukkan bahwa warga Jakarta (dan sekitarnya) butuh selingan dari film-film atau tayangan yang disajikan di bioskop dan televisi, dan EoS mampu hadir menyuguhkan variasi tontonan untuk publik yang tentunya juga bisa memberi sudut pandang baru bagi pengunjung.

Yah walaupun di dunia maya sekarang film-film bisa dengan mudah didapat, tapi sensasi nonton hasil download-an di laptop tentu saja akan berbeda dibanding nonton rame-rame bareng penikmat film yang lain, apalagi sama-sama gratis :D