Suatu Malam di Pecinan

Pukul tujuh seusai misa, kita pergi dari beranda gereja. Menyusul kesukaanku yang katamu istimewa, walau adanya jauh di ujung kota. Melewati hingar-bingar Simpang Lima yang bising tiada asing. Menyusuri gelap malam berhiaskan lampu temaram, di atas jalanan yang bukan pualam.

Di bawah langit bertabur bintang dan hamparan rumput yang luas terbentang, kita duduk berselimut bincang. Bersama dua cangkir kopi, obrolan tanpa henti, dan jaket rajutmu yang lusuh, kemudian pecah tepuk tangan yang amat riuh.

Alunan musik mulai melantun, dan raga ikut mengayun. Dari sela alunan gitar, senyummu terkembang perlahan, dan matamu mencuri pandangku pelan-pelan. Aku dirundung rasa bersalah, tapi urung untuk membantah.

Sebuah vihara tua dan pohon beringin besar di daerah pecinan. Mereka menjadi saksi. Atas kita yang terlarut menikmati seni. Atas aku yang ingkar janji.

Lalu semua hilang bagai ilusi.

Advertisements

Di Peron Satu

Peron itu menjadi saksi
Atas segala sumpah serapah dan caci-maki
Yang ditumpahkan oleh lelaki itu
Entah untuk siapa tertuju

Kukira ia ketinggalan kereta
Tapi, bukankah setelahnya masih ada lagi?
Mungkin saja ia dikejar waktu
Atau jangan-jangan, tlah dialaminya sesuatu
Yang tak seorangpun tau
Termasuk aku yang duduk di jalur berlawanan
Dan petugas yang hanya melihat tanpa menegur

Kemudian belasan kereta melintas di depannya
Tak satupun dinaikinya
Entah apa yang dinanti
Tapi amuknya terus mengalir

Ternyata tidak hanya hari itu
Esoknya kulihat lagi ia di peron satu
Pun hari-hari setelah itu
Gelagatnya masih saja sama
Melontarkan caci maki dan sumpah serapah
Entah pada siapa tertuju

Petugas tetap saja diam
Seolah-olah yang ia lakukan adalah lumrah
Walau kuyakin mereka resah

Hingga suatu hari
Tak lagi terlihat lelaki itu
Kemudian berhari-hari
Tak ada tuturnya terngiang lagi
Belakangan kuketahui
Ternyata ia bunuh diri
Menyusul istrinya yang lebih dulu pergi
Karena kecelakaan di peron satu

===

Gara-gara lagi sering naik kereta jadi lahirlah cerita di atas. Eh tapi kok dark banget ya…..

29 Februari

Kukira Ia akan memperlakukanmu dengan istimewa setelah sekian lama tidak berjumpa.

Seperti menghadiahkan langit biru cerah, misalnya. Sehingga burung-burung gereja itu bisa bebas berterbangan, dan bunga-bunga kembali bermekaran. Kemudian datang dua insan duduk bersisian di pinggir taman, di bawah pohon rindang yang daunnya mendayu-dayu terkena tiupan angin.

Tetapi hujan nampak tak ingin melewatkanmu. Bersama rintikan-rintikannya ia telah menyambutmu sedari pagi. Bahkan hingga malam tiba ia tetap enggan untuk berpisah.

“Bagaimana mungkin. Aku harus menunggu empat tahun lagi hanya untuk bertemu.”

Dan hujanpun melepas rindu.