Cukup Aku Saja

​Bagaimana rasanya jika rasa suka, rasa cinta, yang selama ini bergelora di dalam dada hingga sesak seringkali singgah, dibuyarkan kerna nila setitik?

Sakit? Bisa jadi. Kecewa? Sudah pasti. Ingin marah? Ah, mana ku sanggup. Mengecap rasamu saja sudah cukup membuatku ketar-ketir.

Segalanya berawal tadi malam.

Jadi, begini ceritanya.

Waktu menunjukkan pukul tujuh dan aku baru saja tiba di kedai mie favoritku. ‘Mie Ayam Cabang Roxy’, begitu kata spanduk yang ada di depannya. Kedai ini punya beberapa cabang, salah satunya di kota kelahiranku. (Iya, Depok yang keren itu). Ketika ku lihat ada salah satu cabangnya berdiri di dekat kosku, bisa kau bayangkan lah betapa senangnya hati ini.

Kemudian, malam itu menjadi kali pertama aku menginjakkan kaki di sana.

‘Mas, mie ayam komplit 1. Sama teh tawar panas ya.’ kataku dengan lihai menyebutkan pesanan. Tak berapa lama, semangkuk penuh mie dengan taburan ayam di atasnya dan semangkuk kuah kaldu berisi sayuran, pangsit, dan bakso, tiba di mejaku. Hwah, lihat asapnya yang masih mengepul panas itu! Cium aromanya yang menusuk-nusuk hidung, cium!

Sesuap, dua suap. Aih, makanan surga! Amboi, enaknyaaaa! Maaf, selain karena mie adalah makanan kesukaanku nomor satu di dunia, kala lapar juga berpengaruh terhadap indra pengecapku yang nampaknya bisa menerjemahkan rasa jadi lebih aduhai dari biasanya.

Ku aduk-aduk sesayuran di atas mie ku. Sampai akhirnya aku berhenti mengunyah. Menelan sisa-sisa yang masih tinggal di mulut. Dengan cepat kuteguk gelas teh yang sedari tadi bertengger di sebelah kanan mangkuk.

Ada ulat.

Ada ulat di mangkuk mie ku.

Iya, ada ulat. Di mangkuk mie ayam kesayanganku. Di mangkuk mie ayam dari kedai mie kesukaanku. Di mangkuk mie ayam yang sudah sempat kucicipi lahap walau hanya beberapa suap.

Ulat. Ulatnya gede, bukan yang hijau kecil… tapi yang gede, gendut, putih pucat. Ku rasa kalau dia masih di pohon pasti sudah siap-siap mau jadi kepompong.

Huhu. 

Tercerai-berai hati ini. Kuurungkan niat untuk melanjutkan santapan itu. 

Ku panggil masnya. Dengan raut muka sedih, kutunjukkan yang ada di mangkuk itu.

Mereka bersedia mengganti dengan yang baru. Tapi aku sudah tidak mau.

Teruntuk mas-mas penjual Mie Ayam Roxy Cabang Cikini,

Surat cinta ini kupersembahkan khusus untuk kalian.

Cukup, cukup aku saja, mas.

Cukup aku saja yang pernah mendapatkan bonus ulat di dalam mangkuk mie ayam kalian. Cukup aku saja yang patah hatinya dan tercerai-berai.

Sungguh! Cukup aku saja yang merasa kecewa, selain karena kekecewaan sudah menjadi teman baikku sejak dulu. Jangan biarkan pelanggan-pelanggan kalian yang lain mendapatkan pengalaman pahit itu. Cucilah sayur kalian dengan baik, perhatikan isi mangkuk sebelum menyajikannya ke pelanggan. Aku tahu kedai kalian tak pernah absen dari kata ramai. Tapi, itu bukan alasan untuk tidak memberikan yang terbaik bagi kami, ‘kan?

Maaf, tapi mungkin itu kali pertama dan terakhirku datang ke sana. Ya, walau aku tidak akan berhenti makan mie. 

Tertanda,

Pelangganmu, yang tersakiti.

Tulisan ini dibuat dalam rangka memeriahkan #PosCintaTribu7e yang diselenggarakan oleh PosCinta di Twitter.

Advertisements

Suatu Malam di Pecinan

Pukul tujuh seusai misa, kita pergi dari beranda gereja. Menyusul kesukaanku yang katamu istimewa, walau adanya jauh di ujung kota. Melewati hingar-bingar Simpang Lima yang bising tiada asing. Menyusuri gelap malam berhiaskan lampu temaram, di atas jalanan yang bukan pualam.

Di bawah langit bertabur bintang dan hamparan rumput yang luas terbentang, kita duduk berselimut bincang. Bersama dua cangkir kopi, obrolan tanpa henti, dan jaket rajutmu yang lusuh, kemudian pecah tepuk tangan yang amat riuh.

Alunan musik mulai melantun, dan raga ikut mengayun. Dari sela alunan gitar, senyummu terkembang perlahan, dan matamu mencuri pandangku pelan-pelan. Aku dirundung rasa bersalah, tapi urung untuk membantah.

Sebuah vihara tua dan pohon beringin besar di daerah pecinan. Mereka menjadi saksi. Atas kita yang terlarut menikmati seni. Atas aku yang ingkar janji.

Lalu semua hilang bagai ilusi.

Di Peron Satu

Peron itu menjadi saksi
Atas segala sumpah serapah dan caci-maki
Yang ditumpahkan oleh lelaki itu
Entah untuk siapa tertuju

Kukira ia ketinggalan kereta
Tapi, bukankah setelahnya masih ada lagi?
Mungkin saja ia dikejar waktu
Atau jangan-jangan, tlah dialaminya sesuatu
Yang tak seorangpun tau
Termasuk aku yang duduk di jalur berlawanan
Dan petugas yang hanya melihat tanpa menegur

Kemudian belasan kereta melintas di depannya
Tak satupun dinaikinya
Entah apa yang dinanti
Tapi amuknya terus mengalir

Ternyata tidak hanya hari itu
Esoknya kulihat lagi ia di peron satu
Pun hari-hari setelah itu
Gelagatnya masih saja sama
Melontarkan caci maki dan sumpah serapah
Entah pada siapa tertuju

Petugas tetap saja diam
Seolah-olah yang ia lakukan adalah lumrah
Walau kuyakin mereka resah

Hingga suatu hari
Tak lagi terlihat lelaki itu
Kemudian berhari-hari
Tak ada tuturnya terngiang lagi
Belakangan kuketahui
Ternyata ia bunuh diri
Menyusul istrinya yang lebih dulu pergi
Karena kecelakaan di peron satu

===

Gara-gara lagi sering naik kereta jadi lahirlah cerita di atas. Eh tapi kok dark banget ya…..