Suatu Malam di Pecinan

Pukul tujuh seusai misa, kita pergi dari beranda gereja. Menyusul kesukaanku yang katamu istimewa, walau adanya jauh di ujung kota. Melewati hingar-bingar Simpang Lima yang bising tiada asing. Menyusuri gelap malam berhiaskan lampu temaram, di atas jalanan yang bukan pualam.

Di bawah langit bertabur bintang dan hamparan rumput yang luas terbentang, kita duduk berselimut bincang. Bersama dua cangkir kopi, obrolan tanpa henti, dan jaket rajutmu yang lusuh, kemudian pecah tepuk tangan yang amat riuh.

Alunan musik mulai melantun, dan raga ikut mengayun. Dari sela alunan gitar, senyummu terkembang perlahan, dan matamu mencuri pandangku pelan-pelan. Aku dirundung rasa bersalah, tapi urung untuk membantah.

Sebuah vihara tua dan pohon beringin besar di daerah pecinan. Mereka menjadi saksi. Atas kita yang terlarut menikmati seni. Atas aku yang ingkar janji.

Lalu semua hilang bagai ilusi.

Advertisements

One thought on “Suatu Malam di Pecinan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s