29 Februari

Kukira Ia akan memperlakukanmu dengan istimewa setelah sekian lama tidak berjumpa.

Seperti menghadiahkan langit biru cerah, misalnya. Sehingga burung-burung gereja itu bisa bebas berterbangan, dan bunga-bunga kembali bermekaran. Kemudian datang dua insan duduk bersisian di pinggir taman, di bawah pohon rindang yang daunnya mendayu-dayu terkena tiupan angin.

Tetapi hujan nampak tak ingin melewatkanmu. Bersama rintikan-rintikannya ia telah menyambutmu sedari pagi. Bahkan hingga malam tiba ia tetap enggan untuk berpisah.

“Bagaimana mungkin. Aku harus menunggu empat tahun lagi hanya untuk bertemu.”

Dan hujanpun melepas rindu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s