Karena Hidup adalah Perihal Keberanian

Seperti pertemuan yang pagi tadi ia jejalkan secara tiba-tiba tanpa permisi.

Nampaknya manusia itu hafal betul jika aku tak akan pernah mau diajak jumpa. Terbukti dari ia yang beberapa kali sempat menawarkan ajakan untuk bertemu, namun selalu berujung pada penolakan yang—tentu saja—kusertai dengan alasan-alasan klise. Tapi kali ini kemunculannya yang sudah di ambang pintu tak lagi bisa kuhindari.

Menjamu tamu yang datang dari masa lalu bukanlah perkara mudah. Kedatangannya bisa saja seperti oase di tengah sahara. Menyejukkan segala dahaga walaupun mungkin saja itu fana. Atau seperti angin ribut yang melanda sebuah kampung yang tengah sunyi. Memporakporandakan segala ketenangan yang tercipta di penghujung hari.

Aku memilih untuk tidak banyak bicara, takut kalau-kalau percikan yang dulu pernah ada kembali menyala. Namun senyum sumringah ini memang tidak bisa disembunyikan. Hingga akhirnya semuanya berjalan begitu saja, seiring dengan waktu yang mengemas kami berdua dalam obrolan panjang lebar.

Kami bicara tentang banyak hal. Tentang hobinya bersepeda yang masih rutin ia lakukan. Tentang pekerjaannya yang menyimpang jauh dari kuliahnya. Tentang rencana dan impian-impian yang belum tercapai. Tentang hidup masing-masing. Tentang apapun. Tentang banyak hal. Tak banyak yang berubah dari dirinya, selain fisik yang terlihat semakin kurus.

Siapa sangka perbincangan yang berjalan selama dua jam itu benar-benar terasa biasa saja. Begitu mengalir tanpa ada prasangka apalagi tuntutan. Alih-alih jantung yang berdegup kencang, yang ada malah canda tawa lepas mengisi ruang tamu rumahku. Bahkan kupu-kupu—yang sejak awal kutakutkan—pun enggan memenuhi perut.

Pertemuan dadakan yang singkat itupun harus kami akhiri. Kepulangannya ku antar dengan senyum yang tak lagi sumringah, melainkan senyum penuh keikhlasan dan penerimaan atas segala hal yang pernah terjadi di masa lalu.

Terima kasih telah menunjukkan bahwa waktu memang memulihkan segalanya.

 

Karena hidup adalah perihal keberanian.

 

(Minggu, 1 November 2015)
Dan menulis tentang kamu adalah bagian dari keberanian itu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s