Tentang Memaafkan (Dan Mengikhlaskan)

Memaafkan, mereka bilang itu sulit. Tapi tidak bagiku. Karena masih ada tahap di atas memaafkan yang lebih sulit untuk dilakukan, yaitu mengikhlaskan.

Lain di mulut, lain di hati.

Mengapa memaafkan begitu mudah?

Karena memaafkan, sama seperti hal lain yang hanya terucap di mulut, mudah dilakukan. Mudah dipalsukan.

Ketika orang lain berucap maaf, kita tidak akan pernah tau apakah itu tulus atau sekadar terucap di mulut saja. Begitu dengan kita yang memaafkan, mereka tidak akan pernah tau apakah itu ikhlas atau sekadar balasan di mulut saja. Fair enough, right?

Mengapa mengikhlaskan begitu sulit?

Karena mengikhlaskan, sama seperti hal lain yang dilakukukan menggunakan hati dan perasaan, sulit dilakukan. Sulit dipalsukan.

Karena kita masih tenggelam bersama memori-memori sebelum kesalahan itu muncul. Karena kita masih berandai-andai. Karena masih banyak angan-angan bertajuk ‘bagaimana jika…’

Seorang wanita yang kehilangan kekasihnya.

“Ih gue udah move on dari dia kali. Gue sama dia juga udah baik-baik aja kok. Gue udah maafin dia. Ya buat ke depannya sekarang gue enjoy aja. Ya walaupun kadang nyesek juga, coba aja waktu itu gue………….”

Dan kemudian, kamu belum cukup mengikhlaskan.

Seorang ibu yang kehilangan anaknya.

“Ini peringatan 1 tahun anakku. Ia mengalami kecelakaan kemudian meninggal. Sedih sekali mengingatnya, tapi yasudahlah, aku ikhlas. Ah, andai saja waktu itu ia tidak kuperbolehkan mengendarai motor tengah malam…………..”

Dan kemudian, kamu belum cukup mengikhlaskan.

Seorang pria yang kehilangan ponselnya.

“Mau gimana lagi, hape gue udah terlanjur hilang. Gue sih ikhlasin aja, walaupun banyak kontak penting. Hmm, coba aja kemaren gue nggak naik metromini biadab itu……………..”

Dan kemudian, kamu belum cukup mengikhlaskan.

Karena lain di mulut, lain di hati.

Setulus apapun kamu memaafkan suatu kejadian, akan tetap ada ganjalan di hati, sekecil apapun itu. Akan tetap ada bayangan-bayangan lama yang belum pergi.

Karena sejatinya, kamu tidak akan bisa mengikhlaskan dengan sepenuh hati. 

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Memaafkan (Dan Mengikhlaskan)

  1. you got a point…
    gue hampir selalu memaafkan, tapi pernah aja gitu tiba masanya dan gue malah mengungkit hal-hal “kesalahan” yang sebenarnya gue maafkan itu. :|

    happy new year, Ta. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s