Perihal 365 hari

I shouldn’t have published this kind of post. Because I know it would be cheesy. But hey, who cares? Cheesy is my middle name, isn’t it?


“Selamat satu tahun.”
Kalimat ini terselip di antara pesan singkat kita. Kamu masih di tempat tidurmu, dan aku tengah bersiap untuk pergi.

Kala itu masih pagi. Lalu hari berjalan biasa saja.

Tidak ada candlelight dinner di restoran ternama. Begitu pula dengan bunga mawar merah merekah, apalagi hadiah mahal dibalut kertas kado mewah. Celebration is not our thing. Or we’re just simply too broke.

Satu tahun kita rayakan dengan kamu menjemput aku seusai kelas zumba, makan di kedai steak dekat studio, dan pergi ke amusement park indoor yang ada di pusat perbelanjaan. Menertawakan roller coaster yang lewat di atas kepala, “wahana cupu kayak gitu kok pada teriak.”

Satu tahun kita rayakan dengan berkeliling kota naik motor. Aku yang tanpa riasan, kamu yang beralaskan sendal, dan kita yang sederhana. Aku yang tak berhenti bicara, kamu yang banyak mendengarkan, dan kita yang saling berbalas peluk.

Terima kasih telah selalu sabar dan melengkapiku dengan kedewasaanmu.

Selamat satu tahun. Teruslah menjadi teman untuk berbagi kasih dan sayang, dalam suka dan duka.

Many many years to come?
Aamiin.

Advertisements

Cempreng

Aku dan si mamas lagi di eskalator mall. Tiba-tiba dia nyeletuk.

🧒 : Aku penasaran deh, mau denger suara kamu yang paling berat.
👩 : Hah? Paling berat? Maksudnya? Aku berat? Aku gendutan? Hahhh??? Iya? Iya? *lah kok sensitif*
🧒 : Bukaaaan, suara oy suara maksudnya. Suara kamu yang paling berat. Nge-bass gitu, yang nggak cempreng lah pokoknya.
👩 : Hah?? Jadi menurut kamu aku cempreng????
🧒 : Lah emang selama ini kamu nggak nyadar?
👩 : Lho?
🧒 : *ngunyel-ngunyel kepala*
👩 : …
🧒 : …

Gajah di pelupuk mata emang suka nggak kelihatan, gaes.

Tahi Lalat Baru

Jadi, Jumat malam, aku lagi telfonan sama si mamas. Merencanakan pertemuan di hari Sabtu. Lalu, si mamas berubah jadi excited gitu.

👨 : Besok ada yang mau aku tunjukkin ke kamu *nada misterius tapi excited*
👩 : Hah, apaan?
👨 : Ya besok ajaa, biar seru.
👩 : Ih gak mau. Kasih tau sekaraaang… spoiler deh spoiler.
👨 : Udah besok aja yaa…

Lalu terjadi drama ada yang sok-sok pundung gara-gara gak dikasih tau.
Hmm siapakah itu.
Kemudian setelah sekian menit berdebat….

👨 : Ini… aku mau nunjukkin…
👩 : APA?????!!!!!!!!!
👨 : …tahi lalat baru.
👩 : HAH? HAHAHAHA APAAN SIH.
👨 : Beneran, ada di bawah mata kanan gitu. Tapi aku takut deh, takutnya ini jenis tahi lalat yang bakal tumbuh gitu lhoo..
👩 : ….
👨 : Huhu beneran…*lah jadi sedih* kamu lihat besok ya…

Keesokan harinya, hari Sabtu yang cerah nan terik, aku dan si mamas bertemu seperti biasa. Sambil makan ayam geprek Keprabon, yang sumpah rasanya endolita babanero banget! Terus aku ingat percakapan semalam.

👩 : Mana yang mau kamu tunjukkin ke aku? *sambil memandang wajahnya yang tembem dengan saksama*
👨 
: Nih. *nunjuk-nunjuk area bawah mata kanan*
👩 : Ini?
👨 : Iyaa itu..huhu iya kan
👩 : INI?!?!?!
👨 : IYAAA HUHUHU
👩 : HAHAHAHAHA ITU MAH WHITEHEAD, ALIAS KOMEDO KOCAAAAK!
👨 : Hah?
👩 : HAHAHAHAHA TAHI LALAT APAAN SIH, KOMEDO ITU KOMEDO!!!!! KAMU PENCET NANTI ISINYA KELUAR PUTIH-PUTIH MELATI GITU. NGGAK!!! ITU BUKAN TAHI LALAT, APALAGI YANG BAKAL NUMBUH. HAHAHAHHAHAHAAMPFFFTTTT *dikekep*

Kemudian aku tunjukkin lah channel yucub Dr. Pimple Popper. Aku suruh dia lihat sendiri, soalnya itu disgusting (yet satisfying). Kemudian dia baru ngangguk-ngangguk paham.

Beberapa hari kemudian, si mamas laporan kalo whitehead-nya udah copot sendiri pas lagi cuci muka.

Yah, si mamas gagal punya tahi lalat baru deh.